Senin, 10 Oktober 2011

Definisi Dan Paradigma Nyeri


Definisi nyeri terkini menurut International Association for the Study of Pain (IASP) adalah sebagai suatu pengalaman sensorik dan emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan atau stimulus yang potensial menimbulkan kerusakan jaringan.  Konsep lama menyatakan bahwa pemrosesan nyeri (pain processing) hanya bergantung pada jalur nyeri saja dan intensitas nyeri yang timbul hanya dipengaruhi besarnya stimulus yang didapatkan.

Teori gate control yang dipopulerkan oleh Melzack dan Wall menyatakan bahwa tidak hanya aspek neurofisiologi saja yang mempengaruhi persepri nyeri, tetapi juga aspek psikologis. Teori ini menyatakan adanya proses modulasi desendens dari otak ke medula spinalis terhadap serabut saraf penghantar nyeri sangat mempengaruhi intensitas nyeri yang dirasakan. Hal ini memperkuat anggapan perlunya nyeri ditangani secara multidisiplin.
           
Paradigma modern penatalaksanaan nyeri telah berubah dari model biomedikal menjadi model biopsikososial yang didasari pengertian bahwa mekanisme nyeri merupakan integrasi dari input sensorik, emosional dan sistem kognitif (gambar 1) (Meyer, 2007)


  Paradigma biopsikososial pada nyeri
           
Nyeri fase akut terutama membutuhkan pendekatan terapi farmakologis dan terapi fisik termasuk pembatasan aktivitas. Nyeri fase kronis tidak cukup hanya diatasi dengan terapi farmakologis dan fisik saja tetapi perlu mendapatkan perhatian dari aspek psikologis dan sosial. Ketidakmampuan penyesuaian diri secara psikologis dapat mempengaruhi hasil terapi.

Depresi, somatisasi, intoleransi tehadap nyeri, persepsi diri yang salah akan cenderung memperberat nyeri dalam hal intensitas maupun kronisitasnya. Nyeri kronik juga akan menyebabkan stress psikososial dalam bentuk disabilitas, hilangnya pekerjaan/produktivitas, terganggunya hubungan sosial dan kenikmatan hidup (Disorbio et al., 2006).

Nyeri Neoropati Diabetika

Diabetes melitus (DM) merupakan penyebab  1/3 dari semua nyeri neuropati (NN). Hampir 50% penderita DM yang telah mengidap DM selama lebih dari 25 tahun akan mengalami nyeri neuropati (NN). Hiperglikemia pada DM dapat menimbulkan lesi serabut saraf afferen, yang selanjutnya akan menyebabkan kelainan struktural dan hipereksitabilitas, disamping penurunan nilai ambang terhadap nyeri. 

Kelainan struktural dan hipereksitabilitas dapat menyebabkan terjadinya ectopic discharge yang spontan maupun evoked, yang akan menyebabkan sesitisasi sentral. Sensitisasi sentral, bersama-sama dengan ectopic discharge dan hipereksitabilitas akan menyebabkan nyeri spontan ataupun nyeri evoked.

Kelainan saraf simpatis pada DM dapat menambah timbulnya impuls  yang ectopic. Farmakoterapi akhir-akhir ini, disamping pengontrolan kadar gula darah, juga ditujukan pada "membrane stabilizing agent", seperti antikonvulsan.

Minggu, 09 Oktober 2011

Dr. Lucas Meliala, Sang Inspiratif


Inilah julukan dr KRT Lucas Meliala Sp S. Dokter Spesialis Syaraf RSUP Dr Sardjito. Pria bersahaja kelahiran Membangmuda, Rantau Prapat, Sumatera Utara, 22 September 1941 ini menyimpan kisah panjang yang patut jadi teladan. Sampai-sampai, Keraton Mangkunegaran Solo, menganugerahkan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Gelar kehormatan ini  lazimnya diberikan kepada orang Jawa, utamanya kerabat dekat raja.

Menurut dokter Lucas, sejak 1970, ia merintis bidang ilmu syaraf di wilayah Surakarta. Embrionya di RS Mangkubumen dan kemudian dikembangkannya di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS). “Saya memulai sejak belum ada UNS. Masih di Fakultas Kedokteran Universitas Pembanguan Nasional (UPN) Solo,” katanya.

Selain berhasil ‘menerobos’ kekokohan tembok keraton, pria Batak ini punya masa lalu sangat menarik. Penuh perjuangan, sebagai sulung 10 bersaudara —plus dua adik angkat— dari keluarga Ps Maliala yang berpenghasilan minim. “Bapak saya pegawai rendahan di dinas kesehatan, jabatannya mantri malaria. Untuk menopang hidup, ibu harus kerja keras. Banting tulang di kebun dan sawah,” ungkapnya.

Di usia enam tahun ia sudah diberi tanggung jawab mengasuh adik-adik selagi bapak bekerja dan ibu pergi ke sawah. Sambil mengasuh 11 saudaranya itu, Lucas masih harus merampungkan pekerjaan rumah lain.

Seiring perjalanan usia, tanggung jawab yang diemban bertambah. Mulai ikut bekerja di sawah dan ladang. Sementara tugas mengasuh anak, dioper ke salah satu adik yang dianggap mampu.

Hebatnya, meski kerja keras, prestasi belajarnya cukup menonjol. Barangkali inilah yang membuat kedua orangtuanya mendorong agar Lucas melanjutkan studi ke Yogyakarta.

Tentu, kedua orangtuanya tak pernah menyangka bahwa akhirnya Lucas membeli becak dari menjual buku-buku kuliahnya, lalu bersama isterinya mengelola modal dari kredit di bank sampai punya 41 buah becak. Hasil menyewakan becak inilah yang digunakan untuk melanjutkan kuliahnya. Sampai sekarang masih banyak orang menyebut Lucas Meliala sebagai Dokter Becak.