Senin, 09 Januari 2012

Penyebab Nyeri Tungkai yang Paling Umum


Nyeri tungkai sering terjadi pada orang Amerika, dengan proporsi besar dari populasi mengalami tingkat nyeri tungkai tertentu pada suatu saat sepanjang hidupnya. Nyeri tungkai dapat terjadi sebagai akibat dari cedera atau gejala dari kondisi yang lain. Nyeri tungkai bisa terjadi sementara dan hilang saat cedera sembuh, atau kronis dan lebih sulit diatasi.

Nyeri tungkai yang paling umum disebabkan oleh kejang otot. Biasanya ini bukan kondisi yang serius, karena akan hilang bila otot yang overworked pulih. Faktor-faktor tertentu seperti dehidrasi, ketidak seimbangan elektrolit dan pemakaian obat-obatan tertentu seperti diuretik dan obat-obat statin untuk kolesterol tinggi dapat membuat anda lebih rentan mengalami kejang otot. 

Untuk mencegah kejang otot pada saat anda berolah raga, pastikan anda tetap terhidrasi dan lakukan pemanasan sebelum melakukan oleh raga berat.

Nyeri tungkai juga sering terjadi karena cedera pada tungkai, yang mungkin adalah cedera akut atau cedera karena overuse yang terbentuk setelah beberapa waktu. Contoh cedera yang dapat menyebabkan nyeri tungkai termasuk otot tegang, tulang kering splints, retak growth plate dan patah tulang. Patah tulang menyebabkan nyeri akut yang mungkin cukup parah, sedangkan retak stress adalah retakan pada tulang yang membutuhkan waktu untuk sembuh dan lebih sulit didiagnosa daripada retak tulang yang lebih parah. Growth plate fractures atau disebut juga retak epifisial biasa terjadi pada anak-anak yang tulang tungkainya masih tumbuh. Cedera-cedera ini berpotensi menjadi serius karena bila tidak diobati dengan baik, dapat berakibat tungkai yang cedera tidak tumbuh sebaik kaki yang sehat atau menjadi bengkok. Otot tegang berbeda dengan  kejang  karena melibatkan robeknya otot. Tendonitis atau peradangan pada tendon otot, yang dapat menyebabkan nyeri tungkai. Shin splints adalah cedera karena overuse otot.. fascia dan tendon pada bagian depan tungkai bawah yang disebabkan oleh olah raga atau aktivitas tertentu.
Sebagai tambahan pada cedera karena kecelakaan atau olah raga, kondisi medis tertentu dapat menyebabkan nyeri tungkai. Ada beberapa jenis arthritis termasuk osteoarthritis, rheumatoid arthritis dan gouty arthritis yang dapat menyebabkan nyeri pada pinggul, pergelangan kaki dan sendi lutut. Infeksi pada kapsul sendi, tulang tungkai atau jaringan lain pada tungkai dapat menyebabkan nyeri tungkai. Infeksi pada tulang disebut osteomyelitis, dan dapat menjadi kondisi yang serius. Infeksi yang mempengaruhi tulang dapat menyebar ke tulang dari jaringan di sekelilingnya atau darah. Infeksi tulang  juga dapat terjadi karena komplikasi operasi.
Sebagian  nyeri tungkai disebabkan oleh masalah punggung, jika mengalami herniated vertebral disc, ini dapat menyebabkan tekanan pada saraf yang mensuplai otot-otot dan kulit di tungkai dan menyebebkan sejenis nyeri saraf yang disebut sciatica. Penyebab umum lain yang menyebabkan kerusakan saraf yang dapat menyebabkan nyeri pada tungkai termasuk komplikasi diabetes dan komplikasi karena konsumsi alkohol dan rokok. Kerusakan saraf dapat dirasakan sebagai tingling, mati rasa atau nyeri.
Kadang-kadang, nyeri tungkai dapat disebabkan oleh masalah dengan pasokan vaskuler ke tungkai. Atherosclerosisn dapat menyempitkan atau block arteri di seluruh tubuh. Jika ini terjadi pada arteri coroner, dapat terjadi penyakit jantung, namun bila ini terjadi pada anggota tubuh, dapat menyebabkan nyeri tungkai. Blood clots, or thromboses, dapat memiliki efek serupa karena berkurangnya aliran darah ke tungkai. Pada beberapa kasus, varises juga dapat menyebabkan nyeri pada tungkai, namun ini tidak terjadi pada semua kasus.
Pada kasus yang jarang terjadi, nyeri tungkai dapat disebabkan oleh kista tulang atau tumor. Tumor bisa jadi jinak atau ganas. Contohnya, osteoid osteoma adalah tumor tulang jinak yang menimbulkan nyeri tulang dan biasanya hilang sendiri  namun mungkin membutuhkan operasi pada beberapa kasus. Sebaliknya, Osteosarcoma adalah tumor kanker tulang yang didiagnosa paling banyak pada remaja. Osteosarcoma sering memiliki gejala seperti osteo osteoma namun memerlukan pengobatan yang lebih ekstensiif. Kondisi medis langka lainnya misalnya penyakit Legg-Calve-Perthes, sebuah masalah yang mempengaruhi kebanyakan anak laki-laki kecil dimana pasokan darah ke puncak femur berkurang dan menyebabkan kerusakan pada tulang paha.
Opsi pengobatan pada nyeri tungkai tergantung pada penyebab kondisinya. Beberapa penyebab nyeri tungkai seperti kejang otot, tidak membutuhkan pengobatan, hanya perlu istirahat, sedangkan yang lain membutuhkan pengobatan atau operasi. Beberapa penyebab nyeri tungkai, seperti kasus-kasus yang berhubungan dengan cedera karena olah raga, dapat dicegah dengan hidrasi secukupnya, teknik dan peralatan keamanan. Juga penting untuk menjaga kondisi seperti diabetes terkandali untuk mencegah kerusakan saraf pada anggota tubuh.
Sumber: http://pain.com/library/2011/05/07-common-leg-pain/

Senin, 10 Oktober 2011

Definisi Dan Paradigma Nyeri


Definisi nyeri terkini menurut International Association for the Study of Pain (IASP) adalah sebagai suatu pengalaman sensorik dan emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan atau stimulus yang potensial menimbulkan kerusakan jaringan.  Konsep lama menyatakan bahwa pemrosesan nyeri (pain processing) hanya bergantung pada jalur nyeri saja dan intensitas nyeri yang timbul hanya dipengaruhi besarnya stimulus yang didapatkan.

Teori gate control yang dipopulerkan oleh Melzack dan Wall menyatakan bahwa tidak hanya aspek neurofisiologi saja yang mempengaruhi persepri nyeri, tetapi juga aspek psikologis. Teori ini menyatakan adanya proses modulasi desendens dari otak ke medula spinalis terhadap serabut saraf penghantar nyeri sangat mempengaruhi intensitas nyeri yang dirasakan. Hal ini memperkuat anggapan perlunya nyeri ditangani secara multidisiplin.
           
Paradigma modern penatalaksanaan nyeri telah berubah dari model biomedikal menjadi model biopsikososial yang didasari pengertian bahwa mekanisme nyeri merupakan integrasi dari input sensorik, emosional dan sistem kognitif (gambar 1) (Meyer, 2007)


  Paradigma biopsikososial pada nyeri
           
Nyeri fase akut terutama membutuhkan pendekatan terapi farmakologis dan terapi fisik termasuk pembatasan aktivitas. Nyeri fase kronis tidak cukup hanya diatasi dengan terapi farmakologis dan fisik saja tetapi perlu mendapatkan perhatian dari aspek psikologis dan sosial. Ketidakmampuan penyesuaian diri secara psikologis dapat mempengaruhi hasil terapi.

Depresi, somatisasi, intoleransi tehadap nyeri, persepsi diri yang salah akan cenderung memperberat nyeri dalam hal intensitas maupun kronisitasnya. Nyeri kronik juga akan menyebabkan stress psikososial dalam bentuk disabilitas, hilangnya pekerjaan/produktivitas, terganggunya hubungan sosial dan kenikmatan hidup (Disorbio et al., 2006).

Nyeri Neoropati Diabetika

Diabetes melitus (DM) merupakan penyebab  1/3 dari semua nyeri neuropati (NN). Hampir 50% penderita DM yang telah mengidap DM selama lebih dari 25 tahun akan mengalami nyeri neuropati (NN). Hiperglikemia pada DM dapat menimbulkan lesi serabut saraf afferen, yang selanjutnya akan menyebabkan kelainan struktural dan hipereksitabilitas, disamping penurunan nilai ambang terhadap nyeri. 

Kelainan struktural dan hipereksitabilitas dapat menyebabkan terjadinya ectopic discharge yang spontan maupun evoked, yang akan menyebabkan sesitisasi sentral. Sensitisasi sentral, bersama-sama dengan ectopic discharge dan hipereksitabilitas akan menyebabkan nyeri spontan ataupun nyeri evoked.

Kelainan saraf simpatis pada DM dapat menambah timbulnya impuls  yang ectopic. Farmakoterapi akhir-akhir ini, disamping pengontrolan kadar gula darah, juga ditujukan pada "membrane stabilizing agent", seperti antikonvulsan.

Minggu, 09 Oktober 2011

Dr. Lucas Meliala, Sang Inspiratif


Inilah julukan dr KRT Lucas Meliala Sp S. Dokter Spesialis Syaraf RSUP Dr Sardjito. Pria bersahaja kelahiran Membangmuda, Rantau Prapat, Sumatera Utara, 22 September 1941 ini menyimpan kisah panjang yang patut jadi teladan. Sampai-sampai, Keraton Mangkunegaran Solo, menganugerahkan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT). Gelar kehormatan ini  lazimnya diberikan kepada orang Jawa, utamanya kerabat dekat raja.

Menurut dokter Lucas, sejak 1970, ia merintis bidang ilmu syaraf di wilayah Surakarta. Embrionya di RS Mangkubumen dan kemudian dikembangkannya di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS). “Saya memulai sejak belum ada UNS. Masih di Fakultas Kedokteran Universitas Pembanguan Nasional (UPN) Solo,” katanya.

Selain berhasil ‘menerobos’ kekokohan tembok keraton, pria Batak ini punya masa lalu sangat menarik. Penuh perjuangan, sebagai sulung 10 bersaudara —plus dua adik angkat— dari keluarga Ps Maliala yang berpenghasilan minim. “Bapak saya pegawai rendahan di dinas kesehatan, jabatannya mantri malaria. Untuk menopang hidup, ibu harus kerja keras. Banting tulang di kebun dan sawah,” ungkapnya.

Di usia enam tahun ia sudah diberi tanggung jawab mengasuh adik-adik selagi bapak bekerja dan ibu pergi ke sawah. Sambil mengasuh 11 saudaranya itu, Lucas masih harus merampungkan pekerjaan rumah lain.

Seiring perjalanan usia, tanggung jawab yang diemban bertambah. Mulai ikut bekerja di sawah dan ladang. Sementara tugas mengasuh anak, dioper ke salah satu adik yang dianggap mampu.

Hebatnya, meski kerja keras, prestasi belajarnya cukup menonjol. Barangkali inilah yang membuat kedua orangtuanya mendorong agar Lucas melanjutkan studi ke Yogyakarta.

Tentu, kedua orangtuanya tak pernah menyangka bahwa akhirnya Lucas membeli becak dari menjual buku-buku kuliahnya, lalu bersama isterinya mengelola modal dari kredit di bank sampai punya 41 buah becak. Hasil menyewakan becak inilah yang digunakan untuk melanjutkan kuliahnya. Sampai sekarang masih banyak orang menyebut Lucas Meliala sebagai Dokter Becak.